Oleh: Ernest Hemingway
Menyerahkan wajahmu kepada para pemula di sekolah pangkas rambut butuh nyali. Bagi para pemburu murah, kamu bisa mencabut dua puluh lima gigi hanya dengan $2 di sekolah kedokteran gigi.
“Negeri orang bebas dan rumah bagi yang berani” adalah ungkapan sederhana yang dipakai oleh sebagian warga republik di selatan kita untuk menyebut negara tempat mereka tinggal. Mereka mungkin memang berani—tetapi tidak ada yang benar-benar gratis. Makan siang gratis sudah lama lewat, dan ketika mencoba bergabung dengan Freemason, kamu akan diberitahu bahwa itu akan dikenai biaya tujuh puluh lima dolar.
Rumah sejati bagi yang bebas dan berani adalah sekolah pangkas rambut. Di sana semuanya gratis. Dan kamu memang harus berani. Kalau ingin menghemat $5,60 sebulan untuk cukur dan potong rambut, pergilah ke sekolah pangkas rambut—tapi bawalah nyali bersamamu.
Kunjungan ke sekolah pangkas rambut membutuhkan keberanian yang dingin dan telanjang, layaknya seorang pria yang melangkah menuju maut dengan mata terbuka. Kalau tidak percaya, pergilah ke bagian pemula di sekolah pangkas rambut dan tawarkan dirimu untuk dicukur gratis. Aku sudah melakukannya.
Saat Anda masuk ke dalam gedung, Anda akan mendapati sebuah barbershop yang tertata rapi di lantai utama. Di sinilah para murid yang sebentar lagi akan lulus bekerja. Cukur dikenai biaya lima sen, potong rambut lima belas sen.
“Berikutnya,” panggil salah satu murid. Yang lain tampak menunggu dengan penuh harap.
“Maaf,” kataku. “Aku mau naik ke atas.”
Di lantai ataslah pekerjaan gratis dikerjakan oleh para pemula.
Suasana hening menyelimuti toko. Para tukang cukur muda saling berpandangan penuh arti. Salah satunya membuat gerakan bermakna dengan jari telunjuk melintasi lehernya.
“Ia akan naik ke atas,” kata seorang tukang cukur dengan suara pelan.
“Ia akan naik ke atas,” yang lain mengulanginya, lalu mereka saling berpandangan.
Aku pun naik ke atas.
Di lantai atas ada segerombolan anak muda berdiri mengenakan jaket putih, dan deretan kursi berjajar sepanjang dinding. Saat aku masuk ke ruangan, dua atau tiga orang maju dan berdiri di samping kursi mereka. Yang lain tetap berada di tempatnya.
“Ayo kalian, ini ada satu lagi,” seru salah satu yang berjaket putih di dekat kursi.
“Biar saja yang mau bekerja yang melakukannya,” jawab salah satu dari kelompok itu.
“Kau tak akan bicara begitu kalau kau yang membayar untuk kursusmu,” balas si rajin.
“Diam. Pemerintah yang mengirimku ke sini,” jawab si pemalas, dan kelompok itu pun melanjutkan obrolan mereka.
Aku duduk di kursi yang dilayani oleh seorang pemuda berambut merah.
“Sudah lama di sini?” tanyaku, agar tidak terlalu memikirkan ujian yang akan kuhadapi.
“Belum lama,” katanya sambil menyeringai.
“Berapa lama lagi sebelum kau turun ke bawah?” tanyaku.
“Oh, aku sudah pernah ke bawah,” katanya sambil mengoleskan sabun cukur ke wajahku.
“Mengapa kau kembali lagi ke atas?” kataku.
“Aku mengalami kecelakaan,” jawabnya, tetap melanjutkan mengoleskan sabun.
Tepat saat itu, salah satu dari mereka yang tidak bekerja mendekat dan menatapku dari atas.
“Hai, kau mau lehermu digorok?” tanyanya dengan nada ramah.
“Tidak,” jawabku.
“Haw! Haw!” si pemalas tertawa.
Saat itu juga aku melihat tangan kiri tukang cukurku terbalut perban.
“Bagaimana bisa begitu?” tanyaku.
“Hampir saja ibu jariku teriris habis oleh pisau cukur pagi ini,” jawabnya dengan ramah.
Cukuran itu ternyata tidak terlalu buruk. Para ilmuwan mengatakan bahwa hukuman gantung sebenarnya adalah kematian yang cukup menyenangkan. Tekanan tali pada saraf dan arteri di leher menimbulkan semacam anestesi. Yang membuat seseorang tersiksa adalah menunggu saat digantung.
Menurut tukang cukur berambut merah itu, kadang-kadang ada hingga seratus orang dalam sehari yang datang untuk cukur gratis.
“Mereka juga tidak semuanya ‘gelandangan’. Banyak dari mereka yang mencoba peruntungan hanya untuk mendapatkan sesuatu secara gratis.”
Cukur gratis bukanlah satu-satunya layanan cuma-cuma yang bisa didapat di Toronto. Royal College of Dental Surgeons melakukan perawatan gigi bagi siapa saja yang datang ke kampus mereka di Huron dan College Street. Satu-satunya biaya yang dikenakan hanyalah untuk bahan yang digunakan.
Sekitar seribu pasien ditangani, menurut Dr. F. S. Jarman, D.D.S., kepala bagian pemeriksaan klinik tersebut. Semua pekerjaan dilakukan oleh para mahasiswa tingkat akhir di bawah bimbingan para spesialis gigi.
Pencabutan gigi gratis jika hanya menggunakan anestesi lokal, tetapi dikenakan biaya dua dolar jika menggunakan gas. Menurut Dr. Jarman, dokter gigi dalam praktik umum mengenakan biaya tiga dolar untuk mencabut satu gigi. Di Dental College, Anda bisa mencabut dua puluh lima gigi hanya dengan dua dolar! Itu pasti menarik bagi para pemburu murah.
Profilaksis, atau pembersihan gigi secara menyeluruh, dilakukan di kampus dengan biaya antara lima puluh sen hingga satu dolar. Dalam praktik pribadi, ini akan dikenai biaya antara satu hingga sepuluh dolar.
Tambal gigi dilakukan jika pasien menanggung biaya emasnya. Biasanya antara satu hingga dua dolar. Pekerjaan gigi tiruan jembatan (bridgework) dilakukan dengan sistem yang sama.
Tidak ada pasien yang ditolak di Dental College. Jika mereka tidak mampu menanggung biaya bahan yang digunakan, mereka tetap dirawat. Siapa pun yang mau mengambil risiko pasti bisa menghemat biaya perawatan gigi.
Di Grace Hospital, yang terletak di seberang Huron Street dari Dental College, ada poliklinik gratis untuk kaum miskin yang memberikan perawatan medis cuma-cuma bagi rata-rata 1.241 pasien setiap bulannya.
Layanan ini hanya untuk kaum miskin yang “sangat membutuhkan”. Mereka di antara kita yang miskin, tetapi tidak dianggap benar-benar membutuhkan oleh perawat layanan sosial yang bertugas, harus membayar untuk pelayanan medis. Menurut data di Grace Hospital, lebih dari setengah kasus yang ditangani bulan lalu berasal dari warga keturunan Yahudi. Sisanya merupakan campuran dari orang Inggris, Skotlandia, Italia, Makedonia, dan orang-orang dengan asal-usul yang tidak diketahui.
Dulu, makanan gratis disediakan di Fred Victor Mission, di Queen dan Jarvis Street. Namun pihak pengelola misi menyatakan bahwa sekarang hampir tidak ada lagi permintaan. Larangan minuman keras (Prohibition) dan perang telah menyelesaikan masalah “gelandangan”, dan jika dulu ada antrean panjang para “tunawisma” yang berdiri menunggu kupon makan gratis, kini hanya sesekali saja ada pemohon yang datang.
Jika Anda ingin mendapatkan makan gratis, kamar gratis, dan perawatan medis gratis, ada satu cara yang pasti berhasil. Datanglah pada polisi paling besar yang bisa Anda temukan dan pukul dia di wajah.
Lama waktu Anda mendapat makan dan kamar gratis akan bergantung pada bagaimana perasaan Kolonel Denison. Dan banyaknya perawatan medis gratis yang Anda terima akan bergantung pada besar kecilnya polisi tersebut.
(Source: William White, ed. Ernest Hemingway: Dateline: Toronto. Simon and Schuster, 2002.)
Diterjemahkan ke Indonesia oleh: Fatah Anshori
